Dulu tahun 2006 ada yg pernah jadi panitia program "Silaturrahim" dan diperbantukan untuk keperluan desain dan cetak-mencetak. Kemudian dia sedikit protes, "Bukankah yang betul 'silaturahmi'?" kepada rekan yang menyerahi pekerjaan.
Rekannya menjawab, "Kata Pak Kyai Zarkasy, yang betul itu 'silaturrahim'.
Kalau 'silaturahmi' artinya sarana untuk korelasi seks!"
Sempat shock juga dia mendengar jawaban tersebut alasannya yaitu sudah puluhan tahun dia memakai istilah 'silaturahmi' dalam tulisannya.
Namun semenjak dikala itu dia mulai memakai istilah 'silaturrahim' ketimbang 'silaturahmi' tanpa membantahnya lagi. Karena dia yakin betul bahwa Pak Kyai, sebagai seorang Hafidz Qur'an, jauh lebih tahu dan lebih pintar dibandingnya.
Tapi yang menggangu pikirannya, "Apa betul silaturahmi itu artinya 'sarana korelasi seks'?" Masak sih sejauh itu perbedaannya? Ya, sudahlah. Silaturrahim!
Pada dasarnya susunan karakter dalam kedua kata tersebut sama, namun perbedaan artinya sangatlah jauh. Dalam kebiasaan umat Islam Indonesia.
Banyak memakai kata silaturahmi untuk mengartikan makna menyambung kasih sayang. Padahal, arti silaturahmi ternyata sangat berbeda dengan arti silaturahim.
Memang susunan hurufnya hampir sama dan perbedaannnya hanya ada pada akhiran yang ada pada karakter mim.
Namun ternyata ini sanggup mengakibatkan arti yang berbeda. silaturahmi berasal dari dua kata, “silah” dan “rahmi”. Silah artinya menyambungkan. Sedang rahmi artinya rasa nyeri yang diderita para ibu ketika melahirkan. Kaprikornus arti silaturahmi yaitu menyambungkan rasa nyeri ketika melahirkan.
Ini sangat jauh berbeda dengan arti kata kata, “silah”dan“rahim”.
Silah artinya menyambungkan. Sedang rahim berarti rasa kasih sayang.
Jadi silaturahimlah yang benar untuk mengartikan makna menyambung kasih sayang.
Dengan demikian, silaturahim = korelasi kasih sayang,
sedangkan silaturahmi = penghubung uterus (tali pusar yg menghubungkan ibu dan anak).
Silaturahim yang lebih sempurna bukan silaturahmi sebagaimana disebutkan
didalam nash-nash hadits tentangnya, diantaranya :
Dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu
‘anhu bahwa seorang pria berkata; "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang sanggup memasukkanku ke surga." Orang-orang pun berkata; "Ada apa dengan orang ini, ada apa dengan orang ini." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Biarkanlah urusan orang ini." Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: "Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan shalat, dan membayar zakat serta menjalin tali silaturrahim.
" Abu Ayyub berkata; "Ketika itu dia berada di atas kendaraannya."
(HR.Bukhari)
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia bersabda: "Belajarlah dari nasab kalian yang sanggup membantu untuk
silaturrahim alasannya yaitu silaturrahim itu sanggup membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta, serta sanggup memperpanjang umur." Abu Isa berkata: Ini merupakan hadits gharib melalui jalur ini.
Berkaitan dengan hal ini, para ulama hadits menunjukkan judul pada salah satu babnya didalam kitab-kitab haditsnya dengan silaturahim, ibarat : Imam Bukhori didalam Shahihnya menunjukkan judul “Bab Silaturahim”, Muslim didalam Shahihnya dengan judul “Bab Silaturhim wa Tahrimi Qothiatiha”, Abu Daud didalam Sunannya dengan “Bab Silaturahim” dan Tirmidzi didalam Sunannya dengan “Bab Maa Ja’a Fii Silaturahim”
Sedangkan makna Rahim dengan
memfathahkan karakter Ro dan mengkasrahkan Ha, sebagaimana dikatakan al Hafizh Ibnu Hajar didalam kitabnya “Fathul Bari” dipakai untuk kaum kerabat dan mereka yaitu orang-orang yang diantara sesama mereka mempunyai korelasi nasab, baik mewariskannya atau tidak, baik mempunyai korelasi mahram atau tidak. Namun ada juga yang menyampaikan : mereka yaitu para mahram saja. Namun pendapat pertama lah yang sempurna alasannya yaitu pendapat kedua mengharuskan dikeluarkannya (tidak termasuk didalamnya) belum dewasa lelaki dari paman baik dari jalur bapak atau ibu dari kalangan dzawil arham, padahal bukanlah demikian.
(Fathul Bari juz XVII hal 107)
Istilah silaturahim di tengah-tengah masyarakat kita sering diartikan sebagai aktivitas kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa, saling menolong, dan saling berbuat kebaikan.
Namun, bahwasanya bukan itu makna silaturahim. Pasalnya silaturahim juga bermakna menghubungkan mereka yang sebelumnya terputus korelasi atau interaksi, dan memberi kepada orang yang tidak memberi kepada kita.
Rasulullah Saw, bahwa dia bersabda, “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus”
(HR Bukhari).
Rasulullah SAW berpesan kepada umat Islam untuk menjaga silaturahim. Dalam sabda Rasulullah SAW: “Tahukah kalian wacana sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? ‘Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,’ sabda Rasulullah SAW, ‘adalah jawaban (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah jawaban (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang tetapkan tali persaudaraan”
(HR Ibnu Majah).
Rasulullah SAW menunjukkan tips kepada kita agar
terjalin saling menyayangi dengan sesama muslim, yakni:
. Tebarkan salam
. Menghubungkan tali silaturahim
. Memberi makan kepada yang membutuhkan.
Rasulullah SAW juga bersabda.
“Sayangilah apa yang ada di muka bumi, pasti Allah dan semesta alam akan menyayangimu. ” (H.R Tirmidzi).
No comments:
Post a Comment