![]() |
| Pengaruh Internet bagi remaja |
![]() |
| Pembinaan Penghafal Al Qur'an, anak yatim dan dhu'afa |
Remaja muslim ketika ini mempunyai tugas yang sangat penting.
Terutama untuk mewujudkan generasi masa depan yang bisa meninggikan Islam.
Namun masihkah ada keinginan itu, sedangkan realitas sebagian generasi muda kita ketika ini diserang dengan sikap yang rusak dan menyimpang.
Di tengah-tengah serangan budaya barat yang rusak, sedikit banyaknya kehidupan sekularisme ketika ini telah membuat generasi muda yang menyedihkan. Kerusakan moral, pergaulan bebas, narkoba, tawuran, sampai lupa fatwa Islam dan merasa absurd dengan agamanya sendiri. Sungguh-sungguh sangat menyedihkan dan sangat memilukan.
Sekarang sedang muncul generasi internet (net generation) yaitu yang lahir tahun 1977-1997,mereka generasi pertama diera digital hadir.muculnya komputer sampai fenomena jaringan online. Mereka generasi pertama yang berenang dalam angka-angka biner (bit).
Generasi internet yaitu pemrakarsa, koloborator, organisator, pembaca, penulis, pemeriksa, bahkan pakar aktif ibarat dalam video game.
Temuan yang mengejutkan secara nilai yaitu bahwa mereka lebih matang,merasa bahagia,percaya diri, terbuka,toleran,memiliki prasangka positif.
Namun bagaimana dengan Qur’an Generation, Berapakah prosentase yang dicapai dibanding dengan net generation pada kalangan remaja?
Tak heran kini masuknya dunia globalisasi pun turut
mempengaruhi prilaku cukup umur sekarang.
Dunia globalisasi yang syarat dengan serba instan dan serba canggih ini sudah mulai membuat para cukup umur kini melupakan kewajiban mereka sebagai pelajar yang seharusnya bisa berprestasi dan senantiasa membudidayakan membaca. Kini tak hanya bacaan umum untuk dipelajari saja, tetapi sekedar meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran pun kini seolah-olah tak ada waktu. Bukan hanya membaca, untuk mempunyai Al-Quran pun bagi sebagian orang kini terasa sangat berat.
Banyak diantara kaum cukup umur ketika ini lebih mementingkan kesenangan langsung yang bersifat duniawi, seolah-olah mereka lupa sejatinya kehidupan yang sesungguhnya yaitu “dunia akhirat”. Pergi ke mall, chatingan, teleponan, smsan sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka lebih cenderung merasa happy bila pergi ke mall daripada pergi ke mesjid. Novel klasik percintaan yang penuh dengan kisah cinta semu lebih menjadi daya tarik tersendiri daripada harus membeli Al-Quran atau buku-buku agama untuk dibaca. Kecenderungan itulah yang membuat Al-Quran kini ini hanya menjadi pajangan / formalitas semata sebagai seorang muslim yang harus memilikinya.
Fenomena ibarat itu, sesungguhnya telah diprediksi Rasulullah sekitar 14 masa silam. Karenanya, Rasulullah SAW diakhir hayatnya berpesan kepada umatnya:
''Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara.
Kalian tidak akan sesat selama berpegangan
dengannya, yaitu Kitabullah (Alquran) dan Sunah Rasulullah SAW.''
(HR Muslim).
Qur’an generation lahir semenjak awal mula nabi muhammad mendapatkan wahyu pertama tatkala dia genap berusia 40 tahun, datangnya Jibril kepadanya dengan membawa risalah kenabian. Itu terjadi pada Senin, 17 Ramadhan tahun ke-41 semenjak kelahiran beliau, bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi, serta telah melahirkan jutaan umat penghafal qur’an sampai kiamat nanti yang tidak pernah musnah generasinya.
Mereka para cukup umur generasi qur’ani bukanlah orang kolot yang hanya berkutat dengan al qur’an dan keagamaan serta mengabaikan pencapaian pengetahuan umum, tidak. Namun pada kenyataannya mereka tiada saja diagungkan menurut keutamaan-keutamaan yang telah Allah memutuskan namun Allah memperlihatkan beberapa kelebihan lainnya yang begitu banyak dalam hal kelebihan kemampuan berfikir, bersosial, berkarya dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan bermacam-macam yang ada sesuai pada talenta dan kemampuannya.
Saatnya kini para cukup umur untuk sanggup membiasakan diri menjadi Generasi Qurani, generasi yang Lahir semenjak zaman rasulullah untuk selalu terbiasa membaca Al-Quran dan mengisi setiap hari-harinya dengan kebaikan-kebaikan. Bukan terus menerus menghamburkan uang, membuang waktu dengan nongkrong di mall, chating, facebookan, twitteran. Tetapi sudah saatnya mereka membiasakan diri untuk mengakibatkan Al-Quran sebagai sahabat.Kualitas seseorang sangat ditentukan oleh dua hal, yakni siapa pergaulannya dan apa bacaannya.
Kalau pergaulannya dengan orang biasa-biasa saja, maka cara berfikirnya biasa-biasa. Tapi kalau pergaulannya yaitu lingkungan yang hebat, maka dia menjadi hebat. ''Nah, persoalannya yaitu bagaimana biar kita menjadi anak yang hebat? Maka semenjak kecil sudah dilatih untuk bergaul dengan zat
yang maha ahli yaitu Allah SWT.
Dengan cara apa? dengan cara berlatih untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan spiritual. ''Apa saja yang dilakukannya alasannya yaitu Allah bukan alasannya yaitu selain itu. Dan tentu saja apa yang dilakukan yaitu hal-hal yang baik.
Bagaimana mengenal Asmaul Husna, Ar-Rahman, Ar-Rahim.''
Lalu bagaimana dengan imbas bacaan? Menurut Prof Imam dari Iran, jika bacaannya kelas-kelas tingkat bawah, maka orang itu tidak akan bisa lebih dari bacaan itu. Begitu juga kalau bacaannya berkualitas maka
orang itu juga akan sekualitas itu.
Mejadi cukup umur digital di era net generation yang berkarakter qur’ani
siapa takut??!! Di era digital serta sebagai cukup umur qur’ani yang cerdas tidak memungkinkan untuk menghindari dunia digital bahkan sangat luar biasa dan harus menguasainya dengan tujuan-tujuan terperinci yang bermanfaat ibarat ia akan meluaskan sayap dakwah, membangkitkan dunia qur’ani melalui media-media serta menguasai peredaran media dan perkembangan abjad cukup umur generasi penerus peradaban zaman ini dengan mencetak umat
berkarakter dan bernalar qur’an.
Dan ternyata generasi yang diridhai Allah itu, yaitu mereka orang-orang yang ulet dan semangat membaca Al Alquran bahkan mereka mempunyai agenda tersendiri / meluangkan waktu khusus untuk baca Al Quran.
عَنْ أَبِى مُوسَى رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَارِ…».
“Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya saya benar-benar mengetahui bunyi kelompok orang-orang keturunan Asy’ary dengan bacaan Al Quran, jikalau mereka memasuki waktu malam dan saya mengenal rumah-rumah mereka dari suara-suara mereka membaca Al Alquran pada waktu malam, meskipun bersama-sama saya belum melihat rumah-rumah mereka ketika mereka berdiam (disana) pada siang hari…”
(HR. Muslim).
Guna mencetak generasi Qurani, telah banyak dibuka tempat-tempat mengaji, pesantren-pesantren tahfidz, muatan pelajaran Al qur’an di sekolah-sekolah, perlomabaan-perlombaan, Qur’an Net, Grup-grup sosial media Qur’ani dengan pendidikan, pengajaran, pembudayaan membaca Alquran dengan baik secara makhraj maupun tajwid, menghafal serta memahami isi kandungan Alquran dan Sunah.
Subhanallah
Sumber : http://dvd.pusatalquran.com/hawa99
Tolong Share article ini :


No comments:
Post a Comment